Make your own free website on Tripod.com

Busana Muslimah dan Perubahan Zaman

PRESENTER Dewi Hughes sudah setahun mengenakan busana muslimah. Sebelum ini, dia mengaku tidak tertarik dengan busana yang menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan ini. Sebuah pengalaman pribadi telah mengubah pandangan Hughes terhadap busana muslimah.

Hughes bukanlah selebriti terakhir yang tertarik mengenakan busana muslimah dalam kehidupan sehari-hari. Apakah ini sebuah tren?

"Mudah-mudahan bukan, walaupun ada yang menganggap ini tren bahawa pakaian baju muslim itu ternyata keren. Tetapi, kalau dilihat ke belakang sebenarnya perjuangan untuk memperlihatkan busana muslimah adalah busana sehari-hari yang tidak eksklusif, segmented, sudah dimulai dari tahun 1980-an," tutur perempuan Bali ini.

"Ulama juga berperan di sini, kerana mereka lebih terbuka terhadap perubahan zaman. Misalnya, ustadnya Hughes bilang tidak apa-apa rambut Hughes agak dicoklatkan-waktu Hughes belum pakai busana muslimah-asal tetap di jalan yang diajarkan agama," tutur perempuan kelahiran Tabanan, 2 Maret 1971 ini lagi.

Dari tahun ke tahun busana muslimah semakin banyak yang meminati. Busana muslimah juga ditawarkan di toserba seperti Sogo, meskipun untuk sementara hanya pada saat menjelang lebaran saja. Peran desainer busana muslim jelas sangat besar dalam ikut memopulerkan busana ini.

"Kalau dilihat lagi ke belakang, salah satu tonggaknya adalah ketika berlangsung Festival Istiqlal I tahun 1991. Saat itu, para perancang setiap minggu membuat pergelaran bus`na muslimah. Efeknya langsung terlihat di pasar, busana muslimah menjadi salah satu yang banyak ditawarkan," tutur perancang busana Anne Rufaidah yang sedang bernegosiasi dengan Sogo Plaza Senayan untuk membuka gerai busana muslim secara tetap tahun depan.

Popularitas busana muslimah semakin meningkat saat berlangsung Festival Istiqlal II tahun 1995. "Hampir 50 persen barang dagangan di pusat-pusat grosir seperti Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, diisi busana muslimah. Survei kecil-kecilan saya menunjukkan omzet mereka tinggi, rata-rata Rp 5 juta per hari. Saat menjelang lebaran, omzet per kios ada yang bisa mencapai milyaran rupiah," tambah Anne. Anne tidak melihat semakin meluasnya kalangan pemakai busana muslimah sebagai sebuah bentuk resis-
tensi terhadap globalisasi yang sarat dengan citra bentukan Barat, melainkan sebuah pemahaman yang lebih baik tentang agama yang semakin meluas.

***

SEJAK 12 tahun lalu, Neno Warisman sudah mengenakan busana muslimah. Neno memahami bahwa berjilbab haruslah mengikuti aturan, tetapi soal bentuk bisa bermacam-macam. Karena merasa bentuk wajahnya tidak cocok dengan bentuk jilbab yang umum dipakai ketika itu, Neno merancang jilbabnya sendiri yang terdiri dari dua kain.

Ide memakai dua kain penutup kepala, menurut Neno, didapat ketika dia berada di Mina, Arab Saudi. "Waktu jumrah melempar batu di Mina, udaranya panas sekali sehingga saya memakai dua kain untuk menutup kepala. Ketika saya melihat di foto, wah ternyata cocok wajah saya memakai tutup kepala dengan dua kain," tutur Neno.

Neno mengakui, saat pertama menutup kepala dengan dua lembar kain memang terasa repot. "Tetapi, lama kelamaan terbiasa. Yang penting saya merasa nyaman," tambah dia. Dengan dua kain, Neno bisa membuat jilbabnya tampak tinggi dan dia merasa cocok dengan model itu.

Jilbab menjadi bagian busana yang cukup penting untuk Neno yang merasa mengenakan jilbab sebagai bagian dari proses di dalam diri. Buat Neno, jilbab sangat penting karena menutupi kepala yang memiliki dua bagian penting dari tubuh, yaitu mata dan otak. Secara psikologis, jilbab membuat dia lebih peka dan terdorong melakukan hal-hal yang diingini Allah.

Dalam hal penutup kepala, Hughes termasuk yang senang bereksperimen. Dia memperhatikan berbagai jenis tutup kepala sehingga sampai pada bentuk turban yang menjadi ciri khasnya. "Belakangan baru saya tahu penyanyi R&B Erykah Badu juga memakai turban," kata Hughes tentang penyanyi kulit hitam dari Amerika itu.

***

MEMBUAT busana muslimah yang kreatif memang tantangan bagi perancang busana muslimah. Peran Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dalam menampung dinamika masyarakat dengan mengajak para perancang busana muslim bergabung dalam organisasi ini ikut memopulerkan busana muslim.

Anne Rufaidah yang salah satu anggota APPMI misalnya, mencoba memperkenalkan berbagai jenis bahan maupun padu-padan yang membuat busana muslimah lebih menarik untuk kalangan lebih luas lagi, terutama mereka yang masih muda.

Anne mencoba memasukkan unsur tren, meskipun tetap tidak meninggalkan aturan baku seperti tidak ketat di tubuh serta hanya memperlihatkan wajah dan telapak tangan. Artinya, sepatu bot menjadi lebih praktis membungkus kaki sekaligus trendy. Denim yang tidak tembus pandang, memenuhi kaidah sekaligus mengikuti selera mode.

Bila masih ada selebriti atau tokoh masyarakat yang mengenakan busana muslim hanya pada acara-acara keagamaan, Anne memandang positif hal itu karena tetap menjadi panutan masyarakat luas. "Kalau kita ke pasar, kan kita ditawari kerudung Kris Dayanti," tutur Anne.

Dan, pengalaman Hughes yang sempat ditolak masuk oleh petugas satpam ketika dia akan memasuki studio Metro TV hari Senin lalu karena dia berbusana dengan kerudung apa adanya tanpa berdandan, kembali menggugah kesadaran dia. Kata Hughes, "Hughes sadar bahwa dalam setiap kesempatan kita harus selalu rapi, dan ini sekaligus menjadi tantangan untuk Hughes apa bisa konsisten terus berbusana muslimah." (ARN/NMP)

Busana