Make your own free website on Tripod.com

Harmoni Tropis Busana Muslimah

MENJELANG Hari Raya Idul Fitri, banyak yang sudah menyiapkan busana muslim istimewa menyambut datangnya hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Para perancang anggota Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia menawarkan berbagai alternatif berbusana muslimah dan busana muslim yang tidak meninggalkan aturan yang disepakati, seraya menawarkan rancangan yang bisa mengikuti perubahan mode.

SETELAH beberapa tahun sibuk bermain-main dengan payet, tahun ini payet praktis menjadi sangat minimal penggunaannya sebagai unsur rancangan. Seperti juga arah mode yang ditawarkan oleh para perancang busana nonmuslim anggota APPMI, pergelaran arah mode busana muslim yang diselenggarakan akhir September 2003 itu menggunakan teknik potong asimetri dan kombinasi materi sebagai upaya menawarkan sebuah citra modern dan muda dalam busana rancangan mereka.

Merancang busana muslim memberi tingkat kesulitan tersendiri, mengingat aturan yang menetapkan bahwa busana tersebut harus menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, dan tidak boleh memperlihatkan lekuk tubuh. Di sisi lain, ketika busana muslim dimasukkan ke dalam ranah mode, maka konsekuensi logis yang harus dipenuhi adalah garis rancangan akan selalu berubah mengikuti perkembangan mode. Hal ini masih ditambah lagi dengan keinginan para perancang busana muslim untuk menampilkan rancangan yang modern dan muda sehingga bisa menarik juga bagi anak-anak muda.

"Ada keinginan membuat busana muslim yang muda dan dinamis. Inginnya membuat desain untuk orang muda, tetapi ternyata yang meminati juga mereka yang lebih matang usianya," tutur Monika Juffry yang memiliki busana muslimah berlabel Sessa by Monika & Gusmy Jufry. Gusmy Jufry adalah ibu Monika dan merupakan perintis produk Sessa sejak 1985.

Dengan tema besar dari APPMI yaitu Tropical Harmony, Monika mengambil tema rancang busananya dari Minangkabau. Tutup kepala perempuan Minang hingga paduan celana panjang dan atasan serta kain sarung gaya penari Minang menjadi acuan rancangan Monika. Detail sulaman kepala samek (kepala peniti) menjadi aksen pada rancangan ini. Sayangnya Monika terlalu eksplisit menerjemahkan ide rumah bagonjong Sumatera Barat ke dalam bentuk bahu yang ujungnya mencuat sehingga menampilkan kesan geometris yang mengurangi keluwesan rancangan.

Boyonz Ilyas dengan menggunakan sutra tenun bukan mesin dan motif batik dalam warna sogan kecoklatan yang dipadukan dengan sutra tenun polos dalam warna sama serta teknik potong asimetri, memberi warna baru dalam penggunaan motif batik pada busana muslim. Motif batik yang diperhalus dan dipudarkan sebagai baju atas bergaya tunik serta paduan sepatu bot, memberi kesan dinamis.

Nuniek Mawardi dari Bandung mencoba menawarkan busana muslim yang berbeda dari yang banyak ditawarkan dengan membuat rok panjang atau rok pendek yang dipadukan dengan celana panjang bergaya balon. Penempatan kerut yang melintang asimetri serta rok yang tepiannya diberi tali lalu ditarik, memberi efek gelembung.

Sementara Iva Latifah yang menggunakan satu warna tunggal, hitam, memanfaatkan kecenderungan penggunaan pita yang sedang digemari dalam dunia mode Indonesia. Helai-helai pita yang tak berjahit tepinya dalam warna sama diletakkan di dada atau dalam warna pelangi dijahitkan di bagian pinggul rok.

SELAIN keempat perancang di atas, juga ikut dalam pergelaran arah mode busana muslimah ini Fenny Mustafa yang menawarkan juga busana muslim; Ida Royani yang menggunakan hiasan bulu-bulu atau motif bunga dalam ukuran besar; Alphiana Candrajani menawarkan gaya jubah masyarakat nomadik pengembara dari Mongolia dalam paduan blus, celana panjang, dan blazer atau blus celana dan sarung; Yessi Riscowati yang memiliki busana bermerek Ranti menggunakan tema bunga dalam paduan warna-warna bunga, seperti hijau pupus dan merah cabai atau merah dan kuning; dan Eluisia dengan tema pelangi menawarkan garis dan hiasan berkesan simpel dengan mote dan bordir minimal di bagian ujung lengan baju atau tepian blus panjang berpotongan asimetri.

Bila dilihat sejak awal munculnya pergelaran arah mode busana muslimah/muslim sejak awal tahun 1990-an di bawah bendera APPMI, terlihat sebuah usaha mengembangkan desain busana muslimah yang semakin muda dan menghilangkan kesan yang untuk orang-orang tua.

Yessi Riscowati, yang ikut mendirikan pusat belanja muslim Alifa di Kota Bandung, menyebut upayanya dalam merancang busana muslim sebagai menampilkan rancangan yang kontemporer dan mengikuti mode. Sementara Monika Jufry mengatakan, gaya rancangannya sebagai modern, dinamis, dan simpel. "Karena busana muslim itu sudah menutup seluruh tubuh, jadi desain dan detail hiasannya saya buat sederhana untuk menghindari kesan berat," kata dia.

Tentu saja tiap perancang berhak membuat interpretasi mengenai apa yang dimaksud dengan modern, dinamis, dan muda. Tetapi, dengan semakin beragamnya tawaran, calon pembelilah yang akan diuntungkan karena semakin memiliki banyak pilihan untuk merayakan hari kemenangan yang tidak lama lagi menjelang. (NMP)

Busana